KOMPOSISI PEMBENTUK CAMPURAN FLEXIBLE PAVEMENT, RIGID PAVEMENT BESERTA ALAT YANG DIGUNAKAN
KOMPOSISI PEMBENTUK CAMPURAN FLEXIBLE PAVEMENT, RIGID PAVEMENT BESERTA ALAT YANG
DIGUNAKAN DALAM PEKERJAAN TERSEBUT
Salah satu bahan perkerasan jalan yang telah
banyak digunakan di Indonesia adalah perkerasan lentur (Flexible Pavement)
campuran lapis aspalbeton (laston) bahan ini umumnya digunakan sebagai lapis
permukaan jalan.Campuran Lapis aspal beton juga termasuk jenis konstruksi
perkerasan lentur yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat terdiri dari
agregat, aspal, danbahan pengisi (filler) dimana dalam proses pencampuran
dilakukan dalam keadaan panas pada suhu tertentu. Hasil campuran merupakan
bahan yang padat dan kompak, tahan terhadap beban lalu lintas dan kedap air.
Pada penelitian ini dilakukan terhadap salah
satu jenis konstruksi perkerasan lentur laston yakni laston lapis aus (AC-WC).
Bahan – bahan campuran aspal beton yang digunakan harus memenuhi ketentuan
Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) untuk Jalan Raya berdasarkan Spesifikasi
Umum Bina Marga Tahun 2010 Rev 3.
Suatu campuran aspal agar dapat berfungsi dengan
baik maka harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Kaku (stiff)
Sifat tersebut diperlukan oleh campuran untuk
dapat memikul / membagi beban lalu lintas sehingga dapat mengurangi rutting dan
mengurangi horisontal stress (retak)
b. Lentur (flexibel)
Kemampuan campuran untuk menyesuaikan diri
akibat penurunan (konsolidasi/settlement), masuknya air, dan pergerakan dari
pondasi atau tanah dasar, tanpa terjadi retak. Penurunan ini akibat repetisi
beban lalu lintas, ataupun penurunan akibat berat sendiri tanah timbunan yang dibuat
diatas tanah asli. Agar diperoleh sifat fleksible maka kebutuhan campuran yaitu
permukaan agregat kasar / batu pecah, kadar aspal tinggi.
c. Awet (durabel)
Diperlukan untuk memperlambat embitterment /
perapuhan dari mix juga mempertahankan fleksibillitas, polishing dari agregat /
skid resistan. Agar diperoleh sifat tersebut maka campuran disamping kadar
aspal tinggi agregat gradasi rapat air void juga harus kecil.
d. Tahan terhadap Tekanan
(stabel)
Diperlukan campuran untuk tahan terhadap
deformasi atau perubahan bentuk yang disebabkan oleh beban lalu lintas,
sehingga menggurangi rutting dan bleeding. Stabilitas tergantung dari gesekan
internal dan kohesi. Gesekan internal berasal dari kekasaran permukaan, luas
bidang kontak antar butir atau bidang butir, gradasi agregat, kepadatan campuran,
tebal film aspal, dan kemampuan saling mengunci dari agregat pada campuran.
Aspal yang digunakan aspal keras dengan penetrasi kecil.
e. Kedap Air (impermeable)
Mencegah masuknya air dan udara, karena jika
masuk akan mempercepat proses oksidasi sehingga proses pelapukan akan berlangsung
lebih cepat.
f. Kekasaran (skid resistant)
Kemampuan permukaan beton aspal terutama pada
kondisi basah memberikan gaya gesek pada roda kendaraan sehingga, tidak menimbulkan
slip, serta memberikan sifat kenyamanan terhadap pengendara. Agar diperoleh
sifat skid resistant maka kebutuhan
campuran agregat gradasi rapat dan kadar
aspal sedikit .
g. Mudah
dikerjakan (workability)
Mudah dihamparkan dan dipadatkan agar cepat
pengerjaan dilapangan sehingga mempengaruhi tingkat efesiensi pekerjaan.
h. Tyre
noise
Mengurangi aus pada ban kendaraan dan
memberikan sifat kenyamanan tehadap pengguna kendaraan untuk memperoleh sifat
tyre noise maka kebutuhan campuran agregat gradasi kecil dan kadar aspal besar.
i. Percikan api (spray reduction)
Menghindari apabila terjadi kecelakaan tidak
akan terjadi percikan api, untuk itu kebutuhan campuran kadar aspal besar
penetrasi kecil.
A. Komponen Perkerasan Lentur (Flexible
Pavement) terdiri atas:
1. Tanah Dasar (sub grade)
Tanah Dasar adalah
permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah timbunan,
yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan bagian-bagian
perkerasan lainnya.
Kekuatan dan keawetan
konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat- sifat dan daya dukung
tanah dasar. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai
berikut:
a. Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen)
dari macam tanah tertentu akibat beban lalu lintas.
b. Sifat mengembang dan menyusut dari tanah
tertentu akibat perubahan kadar air.
c. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar
ditentukan secara pasti pada daerah dengan macam tanah yang sangat berbeda
sifat dan kedudukannya, atau akibat pelaksanaan.
2. Lapis Pondasi Bawah (sub base course)
Lapis Pondasi Bawah adalah
bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar.
Fungsi lapis pondasi bawah antara lain:
a. Sebagai
bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban roda.
b. Mencapai efisiensi penggunaan material yang
relatif murah agar lapisan-lapisan selebihnya dapat dikurangi tebalnya
(penghematan biaya konstruksi).
c. Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam
lapis pondasi.
d. Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan dapat
berjalan lancar.
Hal ini sehubungan dengan
terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda alat-alat besar
atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari
pengaruh cuaca. Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR > 20%, PI < 10%)
yang relatif lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi
bawah. Campuran-campuran tanah setempat dengan kapur atau semen portland dalam
beberapa hal sangat dianjurkan, agar dapat bantuan yang efektif terhadap
kestabilan konstruksi perkerasan.
3. Lapis Pondasi (base course)
Lapis Pondasi adalah bagian
perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dengan lapis pondasi bawah
(atau dengan tanah dasar bila tidak menggunakan lapis pondasi bawah).
Fungsi lapis pondasi antara lain:
a.
Sebagai bagian perkerasan yang menahan beban
roda,
b.
Sebagai perletakan terhadap lapis permukaan.
Bahan-bahan untuk lapis
pondasi umumnya harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban
roda. Sebelum menentukan suatu bahan untuk digunakan sebagai bahan pondasi,
hendaknya dilakukan penyelidikan dan pertimbangan sebaik-baiknya sehubungan
dengan persyaratan teknik.
Bermacam-macam bahan alam /
bahan setempat (CBR > 50%, PI < 4%) dapat digunakan sebagai bahan lapis
pondasi, antara lain : batu pecah, kerikil pecah dan stabilisasi tanah dengan
semen atau kapur.
4. Lapis Permukaan (surface course)
Lapis Permukaan adalah
bagian perkerasan yang paling atas. Fungsi lapis permukaan antara lain:
a.
Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban
roda
b.
Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi
badan jalan kerusakan akibat cuaca.
c.
Sebagai lapisan aus (wearing course).
Bahan untuk lapis permukaan
umumnya adalah sama dengan bahan untuk lapis pondasi, dengan persyaratan yang
lebih tinggi. Penggunaan bahan aspal diperlukan agar lapisan dapat bersifat
kedap air, disamping itu bahan aspal sendiri memberikan bantuan tegangan tarik,
yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan terhadap beban roda lalu lintas.
Pemilihan bahan untuk lapis
permukaan perlu dipertimbangkan kegunaan, umur rencana serta pentahapan
konstruksi, agar dicapai manfaat yang sebesar-besarnya dari biaya yang
dikeluarkan.
B. Komponen Perkerasan Kaku (Ragid
Pavement) terdiri atas:
Merupakan jenis perkerasan yang
bersifat kaku (Riqid) karena bahan perkerasannya didominasi oleh beton (Concrete),
perkerasan kaku beberapa tahun ini telah banyak digunakan menggantikan
perkerasan lentur aspal, dikarenakan umur rencana yang lebih lama dan sukar
mengalami kerusakan dibandingkan dengan aspal beton. Secara umum perkerasan
kaku terdiri dari campuran semen, agregat kasar, agregat halus, bahan pengisi
dan zat admixture ditambah dengan tulangan (rebar) sebagai
sambungan antar segmen plat beton. Susunan perkerasan kaku terdiri
dari:
- Lapisan Tanah Dasar (Subgrade), merupakan lapisan dasar dari semua jenis perkerasan yang berupa tanah asli atau timbunan.
- Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course), merupakan lapisan setelah tanah dasar yang meneruskan beban dari lapisan atasnya, pada jenis perkerasan kaku lapisan subbase biasanya berupa plat beton tipis berukuran (5-10)cm yang disebun (Lean Concrete) yang berada di atas tanah dasar. Lapisan beton tipis tersebut harus memiliki campuran yang baik dikarenakan bagian ini merupakan proteksi perlindungan terhadap tanah dasar dari rembesan air. Biasanya sebelum lapisan permukaan dikerjakan lapisan ini diberi pelindung berupa plastik agar mencegah rembesan air (Piping) dari permukaan atasnya sehingga tidak merusak lapisan tanah dasar.
- Lapisan Plat Beton (Concrete Slab), merupakan lapisan beton tebal yang berupa penggabungan antara lapisan base dan surface, pada lapisan beton ini bisanya tebalnya berkisar antara (20-30) cm. Pada lapisan beton sambungan antar segmen bisanya diberikan sambungan vertikal dan horisontal atau tulangan kembang susut (Shrinkage bar) dan tulangan konstruksi (Construction bar) antar segmennya. Ukuran segmen biasanya bervariasi tergantung desain, umumnya lebar segmen plat beton seukuran lebar jalan (2,5-3) m dan panjangnya (4-5) m. Pada bagian permukaan bisanya dibuat grid anti slip pada saat ban kendaraan melintas di atasnya. Umumnya mutu beton pada lapisan ini didesain dengan mutu (K-400 sampai K-500). Pada perkerasan kaku sambungan antar segmen umumnya menggunakan campuran aspal emulsi atau sealant untuk mereduksi pergerakan akibat pemuaian.
Gambar Konfigurasi Rigid Pavement
ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN DLAM PEKERJAAN JALAN TERSEBUT
YAITU :
1.
Excavator
Excavator adalah alat yang digunakan
untuk pekerjaan galian dan timbunan tanah. Excavator ini memiliki lengan
(arm) yang dapat berputar, sehingga dapat lebih mudah untuk menggali
tanah dengan kedalaman tertentu.
Pada proyek konstruksi jalan, Excavator digunakan
untuk menggali tanah dalam pekerjaan cut and fill lahan proyek, gambar excavator
dapat dilihat pada Gambar 5.6.
Gambar 5.6. Excavator
2.
Dump Truck
Dump
Truck adalah sebuah truk yang
mempunyai bak material yang dapat di miringkan sehingga untuk menurunkan
material hanya dengan memiringkan bak materialnya sehingga muatan akan dapat
meluncur kebawah. Untuk memiringkan bak di gunakan oleh pompa hidrolik.
Pada proyek konstruksi jalan, Dump
truk digunakan untuk mengangkut material seperti agregat
pondasi kelas A, aspal, pasir dan material timbunan. Dump
truck yang
di pakai dalam proyek ini adalah dump truck merk Mitsubishi Fuso 220PS
kapasitas . Alat angkut dump truck ini di datangkan langsung dari
kontraktor pelaksana. Gambar dump truck dapat dilihat
pada Gambar 5.7 dump truck Mitsubishi
Fuso 220PS.
Gambar 5.7. Dump truck
3. Water Tank Truck
Water tank truck digunakan
untuk mengangkut air, yang digunakan untuk pekerjaan pemadatan lapis pondasi agregat kelas A, setelah penghamparan material selesai kemudian di
padatkan dan di siram air menggunakan water tank. Water tank yang
di gunakan proyek ini memiliki kapasitas sebesar 5000 liter.
Pada proyek ini, water tank di
datangkan langsung dari kontraktor. Berikut adalah alat untuk menyiram yaitu water tank dapat
di lihat pada Gambar 5.8.
Gambar 5.8. Water
Tank Truck
4.
Vibratory Roller
Vibratory roller adalah alat pemadat yang menggabungkan antar tekanan dan
getaran. Vibratory roller mempunyai efisiensi pemadatan yang baik. Alat
ini memungkinkan digunakan secara luas dalam tiap jenis pekerjaan pemadatan.
Akibat sama efek ditimbulkan oleh vibratory roller adalah gaya dinamis
terhadap tanah cenderung mengisi bagian-bagian kosong terdapat diantara
butir-butirnya sehingga akibatnya tanah menjadi padat, dengan susunan yang
lebih kompak.
Pada
proyek ini, alat
penggilas Vibratory roller yang digunakan adalah tipe HAMM 3410 dan di datangkan langsung dari kontraktor.
Gambar alat berat Vibratory roller dapat
di lihat pada Gambar 5.9 di bawah ini.
Gambar 5.9. Vibratory
roller
5. Motor Grader
Sebagai bagian dari alat berat, motor
grader berfungsi sebagai alat perata atau penghampar yang biasanya
digunakan untuk meratakan dan membentuk permukaan tanah. Selain itu,
dimanfaatkan pula untuk mencampurkan dan menebarkan tanah dan campuran aspal.
Pada proyek ini motor grader yang digunakan adalah merk komatsu tipe GD 555 berjumlah 1 dan di pakai untuk menghamparkan material lapis pondasi
agregat kelas A. Alat tersebut di datangkan langsung dari kontraktor pelaksana.
Gambar alat berat motor grader dapat di lihat pada Gambar 5.10.
Gambar
5.10. Motor Grader
6.
Pneumatic Tire Roller
Untuk pneumatic
tire roller, alat terdiri atas roda-roda ban karet yang dipompa (pneumatic)
maka area pekerjaan juga perlu dibebaskan dari benda-benda tajam yang dapat
merusak roda. Susunan dari roda muka dan roda belakang selang-seling sehingga
bagian yang tidak tergilas oleh roda bagian muka maka akan digilas oleh roda
bagian belakangnya. Alat ini baik sekali digunakan pada penggilasan bahan yang
bergranular, juga baik digunakan pada penggilasan lapisan hot mix
sebagai “penggilas antara”. Pada pekerjaan proyek ini, alat berat pneumatic
roller ini di pakai merk SAKAI TS-200 dengan jumlah 2 unit yang langsung di
datangkan dari kontaktor. Gambar alat pemadat pneumatic tire roller
dapat di lihat pada gambar 5.11.
Gambar
5.11. Pneumatic tire Roller
7.
Tandem roller
Tandem
roller adalah alat penggilas atau pemadat terdiri atas berporos
2 (two axle) dan berporos 3 (three axle tandem rollers).
Penggunaan dari penggilas ini umumnya untuk mendapatkan permukaan yang agak
halus, misalnya pada penggilasan aspal beton dan lain-lain. Tandem roller
ini memberikan lintasan yang sama pada masing-masing rodanya, beratnya antara 8
- 14 ton, penambahan berat yang diakibatkan oleh pengisian zat cair (ballasting)
berkisar antara 25% - 60% dari berat penggilas. Untuk mendapatkan penambahan
kepadatan pada pekerjaan penggilasan biasanya digunakan three axle tandem
roller. Sebaiknya tandem roller jangan digunakan untuk menggilas
batu-batuan yang keras dan tajam karena akan merusak roda-roda penggilasnya.
Pada proyek ini, alat penggilas tandem roller di datangkan langsung
dari kontraktor. Gambar alat berat tandem roller dapat di lihat
pada Gambar 5.12 di bawah ini.
Gambar 5.12. Tandem
Roller
8.
Asphalt
finisher
Alat ini
berfungsi untuk menghamparkan aspal olahan dari mesin pengolah aspal, serta
meratakan lapisannya. Konstruksi Asphalt Finisher cukup besar
sehingga membutuhkan trailer untuk mengangkut alat ini ke medan
proyek. Asphalt Finisher memiliki roda yang berbentuk kelabang atau
disebut dengan crawler track dengan hopper yang
tidak beralas. Sedangkan di bawah hopper tersebut terdapat pisau
yang juga selebar hopper. Pada saat proses penghamparan, awalnya dimulai
dengan memasukkan aspal ke hopper. Kemudian aspal akan langsung
turun ke permukaan dan disisir oleh pisau. Untuk mendapatkan tingkat
kerataan yang diinginkan akan diatur oleh pisau tersebut.
Pada proyek ini, alat asphalt finisher
yang digunakan merk NIGATA NFB6C dengan jumlah 1 unit. Alat
tersebut di datangkan langsung dari kontraktor. Gambar asphalt finisher
dapat di lihat pada Gambar 5.13.
Gambar
5.13. Asphalt Finisher
9.
Alat-Alat konvensional
Alat-alat
konvensional
adalah peralatan sederhana yang digunakan untuk membantu pekerjaan yang
dilakukan oleh para tukang. Alat-alat konvensional tersebut seperti sekop
tangan,
sapu lidi, garuk, traffic cone, kereta dorong dan lainnya. Gambar
alat-alat konvensional dapat dilihat pada Gambar 5.14.
Gambar 5.14. Alat-alat Konvensional
10. Termometer
Iframerah
Termometer inframerah adalah alat untuk mendeteksi temperatur secara
optik—selama objek diamati, radiasi energi sinar inframerah diukur, dan disajikan
sebagai suhu. Alat ini
menawarkan metode pengukuran suhu yang cepat dan akurat dengan objek dari
kejauhan dan tanpa disentuh – situasi ideal di mana objek bergerak cepat, jauh
letaknya, sangat panas, berada di lingkungan yang bahaya, dan/atau adanya
kebutuhan menghindari kontaminasi objek (seperti makanan, alat medis,
obat-obatan, produk atau test, dll.)
Pada proyek ini, alat termometer iframerah
digunakan untuk mengukur suhu dari beton aspal yang di angkut oleh dump
truck dan juga mengukur suhu dari beton aspal saat penghamparan beton aspal
hotmix dengan menggunakan alat asphalt finisher.
Gambar 5.15. Termometer inframerah
11. Aspal
Distributor
Aspal
distributor
adalah truk yang dilengkapi dengan tangki aspal, pompa, dan batang penyemprot.
Pada proyek ini, aspal distributor di datangkan langsung dari kontraktor.
Bentuk aspal distributor diperlihatkan pada Gambar 5.16.
Gambar 5.16. Aspal
distributor
12. Alat Core
Drill
Core Drill adalah alat yang digunakan
untuk menentukan/mengambil sample perkerasan dilapangan sehingga bisa diketahui
tebal perkerasannya serta untuk mengetahui karakteristik campuran perkerasan.
Pada proyek ini, alat core drill di
datangkan dari pihak kontraktor. Bentuk alat core drill dapat dilihat
pada gambar 5.17.
Gambar 5.17. Alat Core Drill
13. Alat Sand
cone
Alat Sand cone adalah
alat yang digunakan untuk pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan
menggunakan pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan yang mempunyai
sifat kering, bersih, keras, tidak memiliki bahan pengikat
sehingga dapat mengalir bebas. Pada proyek ini, alat sand cone di
datangkan langsung dari laboratorium milik kontraktor. Gambar alat sand cone
dapat dilihat pada gambar 5.18.
Gambar 5.18. Alat Sand cone
14. Alat CBR
Alat
CBR (California
Bearing Ratio) adalah alat yang digunakan untuk menentukan tebal suatu
bagian perkerasan. Alat CBR merupakan suatu perbandingan antara beban percobaan
(test load) dengan beban standar (standart load) dan dinyatakan
dalam presentase. Alat CBR Lapangan yang di gunakan pada proyek ini, di
datangkan dari kontraktor.
Gambar 5.19. Alat CBR
SEMOGA BERMANFAAT 😉✌















Komentar
Posting Komentar